Mengenal Catastrophizing Serta Ragam Penyebabnya


Dalam situasi sulit, banyak orang sering dihantui oleh pikiran negatif. Pikiran negatif ini kemudian membuat mereka merasa akan mengalami hal-hal buruk, yang belum tentu demikian. Jika Anda termasuk orang yang berpikiran sama, kondisi ini dikenal sebagai bencana. Misalnya, jika ditinggalkan oleh orang yang dicintai, sebagian orang berpikir bahwa hidupnya tidak akan seindah dulu. Padahal, setelah hubungan itu berakhir, kehidupan mereka akan jauh lebih baik.
Jika dibiarkan, pola berpikir negatif ini bisa berujung pada depresi.

Apa itu catastrophizing?

Catastrophizing merupakan pola pikir yang membukin seseorang berpikir jika masalah akan berakhir dengan buruk. Kondisi ini membuat situasi jauh lebih serius, lebih buruk atau lebih mengerikan daripada yang sebenarnya. Beberapa contoh yang umum terjadi di kehidupan nyata antara lain:

  • Jika Anda gagal dalam ujian, Anda tidak dapat lulus sekolah. Hidup akan terasa hancur setelah itu karena prestasi akademik yang buruk.
  • Jika Anda putus dengan pasangan Anda saat ini, Anda tidak akan pernah bisa menemukan orang lain yang bisa membuat Anda bahagia. Setelah itu, hidup akan penuh dengan kesedihan.
  • Jika Anda tidak lulus dari perguruan tinggi, akan sulit untuk mencari pekerjaan. Kehidupan masa depan kemudian akan dipenuhi dengan masalah keuangan.

Menyebabkan seseorang dengan mentalitas negatif

Sejauh ini, penyebab pasti bencana itu belum diketahui. Namun, ada beberapa kondisi yang dapat berkontribusi terhadap perkembangan pola pikir ini, antara lain:

Ambiguitas

Ketidakjelasan atau ambiguitas dapat menyebabkan pola pikir ini muncul. Misalnya, kebanyakan orang umumnya akan mulai berpikir negatif ketika mendapat pesan dari pasangannya yang mengatakan “Kita perlu bicara.”¬†Arti dari pesan ambigu ini bisa positif. Namun, ambiguitas yang ada menyebabkan kebanyakan orang berpikir negatif saat menerima pesan tersebut.

Nilai

Hubungan dan situasi yang berkualitas tinggi dapat memicu pola berpikir negatif dalam diri seseorang. Ketika seseorang kehilangan sesuatu yang sangat berarti bagi mereka, mereka akan merasa bahwa hidup akan sulit setelah itu.

Misalnya, jika Anda melamar pekerjaan di perusahaan yang Anda impikan sejak masih sekolah, seseorang mungkin mulai membayangkan kekecewaan, kecemasan, dan depresi yang akan terjadi jika Anda tidak mendapatkan pekerjaan tersebut. Pikiran negatif ini adalah bentuk bencana.

Takut

Ketakutan irasional memainkan peran besar dalam munculnya mentalitas negatif. Misalnya, rasa takut ditinggalkan oleh pasangan dapat membuat seseorang berpikir bahwa hidupnya akan hancur dan tidak ada artinya jika situasinya benar-benar muncul.